Jumat, 19 Oktober 2018

Bekraf Komitmen Perkuat Ekosistem Ekonomi Kreatif Indonesia


Jakarta (#Bogor) - Kepala Badan Ekonomi Kreatif/Bekraf Triawan Munaf menjelaskan pesatnya perkembangan teknologi digital tak dapat dipungkiri telah memberikan pengaruh signifikan pada sektor ekonomi kreatif. Pemanfaatan teknologi digital sudah mulai dapat dirasakan dampaknya di berbagai subsektor, seperti desain, musik, seni rupa, dan lainnya. “Pada tahun lalu, PDB ekraf diperkirakan sudah mencapai lebih dari seribu triliun rupiah. Angka ini akan terus meningkat hingga di atas 1,2 ribu triliun pada 2019. Subsektor Fesyen, Kriya, dan Kuliner masih akan menjadi subsektor yang memberikan kontribusi terbesar terhadap perekonomian di industri kreatif, terutama dikarenakan subsektor ini relatif lebih resisten terhadap guncangan ekonomi dunia. Tetapi selain itu ada 4 subsektor yang berpotensi menjadi kekuatan ekonomi baru yakni film, musik, art, dan game(animasi),” ujar Triawan saat menunjukkan buku kinerja dan capaian Bekraf berjudul Opus 2019 (17/10). 

Bekraf sebagai lembaga pemerintahan non-kementerian yang ada sejak 2015 terus menunjukkan komitmen membuat ekosistem ekononomi kreatif yang kohesif untuk lebih lanjut mendorong pertumbuhan ekonomi kreatif Indonesia melalui berbagai kontribusi positif di enam belas subsektor ekonomi kreatif. 

“Opus 2019” juga mengulas pencapaian Bekraf melalui berbagai program yang dilaksanakan setiap Deputi Bekraf. “Sejak 2015, Deputi Riset, Edukasi, dan Pengembangan telah membangun Pusat Unggulan Ekonomi Kreatif dan menjalankan beberapa program yang tertuang di dalamnya, termasuk di antaranya Coding Mum, IKKON, CREATE, dan ORBIT. Tujuannya adalah memperkuat pondasi sektor ekraf Indonesia berdasarkan riset dan tolak ukur yang akurat,” ujar Abdur Rohim Boy Berawi selaku Deputi Riset, Edukasi dan Pengembangan (Deputi I Bekraf). 

Sementara Deputi Akses Permodalan (Deputi II Bekraf) melalui program Bantuan Insentif Pemerintah (BIP) telah meningkatkan jumlah orang/usaha penerima BIP hingga hamoir dua kali lipat, dengan sektor yang semakin bervariasi, yaitu Aplikasi & Game Developer, Kuliner, Fesyen, dan Kriya dengan total dana yang disalurkan mencapai Rp 6 milyar di 2018. 

Deputi Infrastruktur (Deputi III Bekraf) melalui Bantuan Pemerintah (Banper) Sarana Ruang Kreatif 2017 berhasil menyalurkan Rp 19 milyar ke 38 lokasi dengan 7.000 barang/alat. Banper Revitalisasi Ruang Kreatif 2017 mencapai lebih dari Rp 26 milyar di 24 lokasi dan 7.000 barang/alat. Sementara itu, Banper Sarana TIK 2017 mencapai lebih dari Rp 2,5 milyar untuk 6 lokasi, dan 166 barang/alat, dan 1 situs. Total Banper yang diberikan sebesar Rp 45,5 milyar sepanjang tahun 2017. 

Deputi Pemasaran (Deputi IV Bekraf) dengan program KREATIFOOD telah menjelma dari kegiatan festival kuliner tahunan menjadi salah satu ajang kuliner terbesar dan terpopuler di Indonesia, bertema Soto dan Kopi. Program ini turut memeriahkan gelaran Asian Games 2018 dan akan hadir juga di The World Conference on Creative Economy (WCCE) 2018 di Bali bulan depan. Selain itu, program unggulan lainnya adalah Kreatorial 2017, ICINC MetroTV, Salone Del Mobile, Venice Art Biennale, SXSW 2017, dan New York Now yang berhasil mendapatkan total penjualan sebesar US$ 71,117 atau setara dengan Rp 974,842,800. 

Deputi Fasilitasi HKI dan Regulasi (Deputi V Bekraf) memiliki program antara lain Sosialisasi Satuan Tugas Penanganan Pengaduan Anti Pembajakan Produk Ekonomi Kreatif, Sosialisasi HKI: Digital Kreatif x Line, Sosialisasi Konsultasi dan Fasilitasi Pendaftaran Hak Kekayaan Intelektual, Sosialisasi Lembaga Manajemen Kolektif (LMK) & Lembaga Manajemen Kolektif Nasional (LMKN), Fasilitasi Pembentukan Regulasi Ekonomi Kreatif, Fasilitasi Pembentukan Badan Hukum Untuk Usaha Ekonomi Kreatif. Sepanjang tahun 2017, sebanyak 1,507 HKI telah terdaftar melalui program deputi ini. 

Lalu Deputi Hubungan Antar Lembaga dan Wilayah (Deputi VIBekraf) miliki beragam program seperti KOPIKKON, Program Satu Pintu yang semakin mempermudah akses masyarakat ke Bekraf, sejak 2016 menerima 22 proposal kemudian melonjak menjadi 75 proposal di 2017, Buku Pedoman Komisi Film Daerah, World Conference on Creative Economy 2018, serta Pendukungan Travel Grant untuk Para Pelaku Ekonomi Kreatif. Tak ketinggalan, dukungan terhadap program 1.000 Layar Untuk Indonesia sebagai salah satu upaya memajukan industri ekonomi kreatif melalui subsektor yang semakin beragam. 

Intinya, program dan kegiatan Bekraf menggenjot dan memperkuat PDB, nilai ekspor, dan tenaga kerja di sektor ekonomi kreatif (dk). | TIM