Home » » KUR Pertanian Sebaiknya Fokus di Sektor Pangan dan Hortikultura

KUR Pertanian Sebaiknya Fokus di Sektor Pangan dan Hortikultura

Arif Budiman, praktisi pertanian dan penemu varietas padi melur
Jakarta (#Bogor) - Pembangunan Pertanian Indonesia saat ini memasuki masa transisi generasi dan transformasi teknologi, yang mesti dikawal dan pendampingan dari pemerintah. Suka atau, petani indonesia harus mengikuti kemajuan sistem usaha tani dan peran serta pemerintah sebagai regulator dan fasilitator.

Ini diungkapkan Arif Budiman praktisi pertanian, penemu Varietas Padi Melur, kini dikembangkan di Kabupaten Kulonprogo dan Kabupaten Nagakeo Nusa Tenggara Timur, Arif menuturkan berbagai tantangan dan peluang sektor pertanian khususnya komoditas pangan dan hortikurtura harus mendapat perhatian dan sentuhan kebijakan yang khusus dari pemerintah. Petani sub sektor pangan sering mengalami tekanan mulai di on farm hingga off farm.

“Kami sangat mendukung dan memberikan apresiasi tinggi dengan Program Menteri Pertanian, Syahrul Yasin Limpo, yang menerapkan Program KUR untuk pemberdayaan petani sebagai modal usaha “ ujar Arif. Namun menurutnya, agar program efektif dan efisien harus sungguh-sungguh dikawal mengingat petani komoditas tanaman pangan seperti padi dan sayur mayur rentan mendapat tekanan dan gangguan baik itu iklim dan terutama harga jual produksi.

“Kita sangat mensyukuri anugerah luar biasa dari yang maha kuasa untuk negeri ini yang memiliki keistimewaan hampir sempurna dibanding negeri lain. Banyak varietas tanaman sub tropis dapat dibudidayakan dan berproduksi dengan baik seperti buah-buahan dan sayur mayur. Persoalannya dukungan lembaga riset sampai saat ini masih jauh dari yang diharapkan petani. Contohnya Apel dan Anggur, hingga saat ini sudah memiliki 100 varietas termasuk yang baru-baru ini dilaunching Mentan dengan nama "Anggur Jan Etes", jelas Arif.

Demikian juga jeruk. Saat ini di Kabupaten Malang ada 1200 hektar tanaman jeruk sunkis yang berkualitas tinggi dengan menghimpun petani dimotori anak-anak muda milenial, menghasilkan ratusan juta rupiah setiap pekannya. Ada juga kebun anggur di Probolinggo yang memadukan usaha agro wisata. Petani milenial ini harus mendapat dukungan pemerintah agar dapat melakukan usaha yang sama di wilayah lain. Ekspor memang menjadi proritas untuk mendatangkan devisa namun jangan sampai kecolongan, negeri dengan populasi 267 juta jiwa ini adalah pasar sangat potensial dan menjadi rebutan dari negara lain untuk memasok produksinya, dimana saat ini impor hortikultura masih tinggi.

Arif Budiman berharap, pengembangan buah lokal yang sedang giat dilakukan pemerintah dengan berbagai penelitian agar menghasilkan produktivitas yang tinggi harus diarahkan untuk mengisi kebutuhan pasar domestik seperti buah anggur. Variietas impor yang satu ini, mulai ramai diperbincangkan karena munculnya daerah yang mampu budodaya buah anggur seperti di Probolinggo, khususnya sudah ada 100 varietas buah anggur termasuk “jan ethes” dimana rasanya luar biasa.

Menurut Arif, buah anggur yang banyak digemari masyarakat, harus dipromosikan secara massif hingga mendorong petani untuk menanam dalam skala luas yang memiliki nilai ekonomi dan dapat mewarnai harga pasar serta menekan impor. Arif menjelaskan saat ini dibutuhkan petani-petani yang mau menanam secara luas apakah itu perorangan atau bersatu membentuk Kelompok Tani dan Gapoktan yang lebih besar lagi (dh).

Terimakasih sudah membaca & membagikan Berita #Bogor | Berita Tagar Bogor

Previous
« Prev Post

Berita Tagar Bogor

Populer