Home » » Sejarah Prasasti Batutulis 1.533 M

Sejarah Prasasti Batutulis 1.533 M

Sejarah Prasasti Batutulis
Jakarta  (#Bogor)  –  Prasasti peninggalan dari zaman kebudayaan Hindu, berada di sebuah area dengan ukuran sekitar 17 x 15 meter. Dimana tempat Prasasti Batu Tulis ini berada, diperkirakan dahulunya sebagai Ibu kota Pajajaran

Prasasti tersebut, beserta benda-benda lain peninggalan Kerajaan Sunda terdapat dalam komplek, yang berada di Jalan Batutulis, Kelurahan Batutulis, Kecamatan Bogor Selatan, Kota Bogor.

Yangg dimaksud dengan hutan Samida pada monumen prasasti tersebut, diperkirakan adalah Kebun Raya Bogor.

Prasasti tersebut menjadi petunjuk tentang keberadaan Kerajaan Sunda Pakuan Pajajaran yang berumur sekitar 97 tahun.

Selanjutnya kekuasaan silih berganti, yakni :

  • Prabu Siliwangi I (1.371 M – 1.475 M)
  • Prabu Siliwangi II (1.475 M – 1.482 M) 
  • Prabu Siliwangi III (1.482 M – 1.521 M) bertahta di Pakuan (sekarang Bogor), dari Permaisuri (Garwa Padmi) adalah sebagai berikut:
  • Prabu Siliwangi IV (1.521 M - 1.535 M)  Surawisesa - bertahta di Pakuan
  • Prabu Siliwangi V (1.535 M - 1.543 M) Ratu Dewata - bertahta di Pakuan
  • Prabu Siliwangi VI (1.543 M - 1.551 M) Ratu Sakti - bertahta di Pakuan
  • Prabu Siliwangi VII (1.551 M - 1.567 M) Ratu Nilakendra - meninggalkan Pakuan karena serangan Hasanudin dan anaknya, Maulana Yusuf
  • Prabu Siliwangi VIII (1.567M - 1.579 M) Raga Mulya - dikenal sebagai Prabu Surya Kencana, memerintah dari Pandeglang

Sementara Batu Tulis ini berukir kalimat-kalimat dalam bahasa dan aksara Sunda Kuno. Prasasti ini berangka tahun 1.455 Saka (1.533 M).

Pada Prasasti Batu Tulis, terdapat tulisan yang berbunyi :
Wangna pun ini sakakala, prebu ratu purane pun,
diwastu diya wingaran prebu guru dewataprana
di wastu diya wingaran sri baduga maharaja ratu haji di pakwan pajajaran seri sang ratu dewata
pun ya nu nyusuk na pakwan
diva anak rahyang dewa niskala sa(ng) sida mokta dimguna tiga i(n) cu rahyang niskala-niskala wastu ka(n) cana sa(ng) sida mokta ka nusalarang
ya siya ni nyiyan sakakala gugunungan ngabalay nyiyan samida, nyiyan sa(ng)h yang talaga rena mahawijaya, ya siya, o o i saka, panca pandawa e(m) ban bumi

Artinya :
Semoga selamat, ini tanda peringatan Prabu Ratu almarhum
Dinobatkan dia dengan nama Prabu Guru Dewataprana,
dinobatkan (lagi) dia dengan nama Sri Baduga Maharaja Ratu Aji di Pakuan Pajajaran Sri Sang Ratu Dewata.
Dialah yang membuat parit (pertahanan) Pakuan.
Dia putera Rahiyang Dewa Niskala yang dipusarakan di Gunatiga, cucu Rahiyang Niskala Wastu Kancana yang dipusarakan ke Nusa Larang.
Dialah yang membuat tanda peringatan berupa gunung-gunungan, membuat undakan untuk hutan Samida[2], membuat Sahiyang Telaga Rena Mahawijaya (dibuat) dalam (tahun) Saka "Panca Pandawa Mengemban Bumi".

Sejarah Prasasti Batu Tulis
Prasasti Batu Tulis ini adalah peninggalan dari Kerajaan Galuh Pakuan atau sering disebut dengan Pakuan Pajajaran, atau Pajajaran. Sebuh kerajaan Hindu sejak abad 11 -16.

Bahan dari Batu Tulis menggunakan batu Terasit, jenis batu yang ada di sepanjang aliran Sungai Cisadane, Bogor, Jawa Barat.

Batu Tulis ini menggunakan huruf Sunda Kawi,  atau Pallawa serta memakai bahasa Sansekerta, yang dibangun oleh Prabu Surawisesa / Prabu Siliwangi IV

Tujuan dibuatnya prasasti ini diduga untuk menegaskan jasa-jasa Prabu Siliwangi III, yang merupakan ayahanda Prabu Surawisesa.

Beberapa pakar memperkirakan : bahwa prasasti ini di tulis:

  • Versi 1 : Prasasti ditulis setelah Sang Prabu Siliwangi III meninggal dunia
  • Versi 2 : Prasasti ini dibuat sebagai bentuk penyesalan Prabu Surawisesa. karena tidak mampu mempertahankan keutuhan wilayah Pakuan Pajajaran. Dimana zaman itu pasukan yang dipimpinya mengalami kekalahan. Saat pertempuran melawan Kesultanan Cirebon, berujung hilangnya sebagian wilayah kerajaan
  • Versi 3 : Menurut Ibu Maemunah (penjaga situs in), bahwa situs prasasti ini dulunya adalah tempat yang dipakai sebagai podium penobatan raja-raja di Kerajaan Pajajaran

Prasasti Batu Tulis ini, untuk pertama kali ditemukan oleh ekspedisi  VOC (Vereenigde Oost Indische Compagnie) yang dipandu oleh Scipio, dan berita penemuan ini, tercatat dalam laporan ekspedisi pada tanggal 28 Juli 1.687 M.

Tercatat pada tahun 1.853 M seorang ahli dari Belanda, yang diduga sebagai penemu patung Lembu Nandi di Kebun Raya Bogor.

Sumber : Dari berbagai sumber
Foto : Istimewa

Terimakasih sudah membaca & membagikan Berita #Bogor | Berita Tagar Bogor

Previous
« Prev Post

Berita Tagar Bogor

Populer